Beginilah Seharusnya Menjaga

Dahulu saya belum paham bagaimana seharusnya interaksi terhadap ikhwan dan akhwat. Rapat hanya berbataskan hijab kecil dan setelah rapat, seperti biasa tetap bisa melihat ikhwan tanpa ada suatu penghalang, semua kembali seperti biasa saja, ada juga hanya berbatas tiang besar, akhwat dikanan ikhwan di sebelah kiri. Acara-acara kajian juga hanya berbatas jarak saja, ikhwan di depan, akhwat di belakang, tanpa adanya hijab. Dulu yang demikian itu saya kira sudah cukup menjaga, ternyata tidak juga, terkadang rapat masih sms-an dengan nomor pribadi, bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya ketika bahasan rapat telah usai, setan sangat lihai menggoda manusia bisa saja yang tadinya bahas rapat ujung-ujungnya omongan nyerempet kemana-mana, bahkan tidak dipungkiri dengan terselipnya candaan tawa dalam ekspresi tulisan. Saya kira hal semacam ini bisa saja terjadi dan sangat mungkin terjadi. Misal dari acara-acara yang memungkinkan bertemunya ikhwan dan akhwat misalnya rihlah ( jalan-jalan bareng ), foto-foto dan semua agenda yang menyelipkan kesan tersendiri bagi yang pernah merasakannya. Ya kesan, kalo agenda untuk akhwat doang atau ikhwan doang katanya sih gak asik dan gak efisien. Saya sampai heran ketika ada acara suatu pertemuan antar aktivis yang mengundang ikhwan dan akhwat untuk datang sampai harus safar, dan padahal seharusnya aktivis dakwah tau bagaimana safar itu, bagi akhwat yang tidak bermudah-mudah untuk safar, apalagi tanpa mahrom. Jangan melebelkan bahwa kejadian tersebut demi maslahat dakwah, apakah benar ikhtilath campur baur, perempuan yang safar tanpa mahrom itu maslahat dakwah? Coba dipikirkan dan dikaji lagi.

Muncul dalam benak saya, apakah yang dimaksud dengan menjaga itu? Haruskan maruah seorang wanita dipertaruhkan demi kemaslahatan dakwah? Kemaslahatan yang seperti apa? Yang bagaimana? Satu kata yang bisa saya tangkap, demi maslahat dakwah? Benarkah? Pertanyaan itu yang masih tersimpan dalam benak pada waktu itu, karena banyak keanehan-keanehan yang seharusnya tidak ada pada sosok aktivis, penyeru lingkaran dakwah.

Saya punya kisah ketika saya akhirmya memutuskan untuk beralih..beralih untuk mencari kebenaran yang haqiqi..seiring berjalannya waktu seiring dengan bertambahnya kenikmatan dalam menghadiri majelis ilmu, banyak hal yang saya perhatikan, terutama pergaulan atau interaksi antar ikhwan dan akhwat.

  1. Ketika rapat

Yang namanya rapat tidak dipungkiri untuk interaksi secara intens, dan kebanyakan para aktivis bisa saja terjebak  (virus merah jambu) karena keseringan rapat. Tetapi berbeda dengan apa yang saya lihat di dakwah salaf. Saya melihat interaksi sangat minim, karena rapat berjalan seperti satu arah dibantu dengan umahat atau senior yang sudah menikah untuk menjadi perantara dalam rapat.

Misal : ada agenda rapat di masjid A, ikhwan sudah menginfokan tempat, dan pembahasan yang akan dibahas dalam rapat kepada akhwat tentunya menyampaikannya tidak melalui no pribadi tetapi melalui no cp akhwat. Dan yang akhwat dalam memasuki pembicaraan tidak terlalu banyak bicara seperti halnya ikhwan, karena akhwat merasa agak risih jika terlalu banyak bicara. Terkadang juga akhwat sering menolak rapat yang bertemu dengan ikhwan jika tidak terdesak, dan bukan sesuatu yang urgent dibicarakan. Tidak heran kebanyakan mereka rapat via email, dan tentunya tidak memakai email pribadi tetapi email khusus untuk rapat.

  1. Ketika kajian

Ketika kajian ikhwan memasang hijab setinggi mungkin setebal mungkin, sehingga akhwat sama sekali tidak bisa melihat ustadz nya atau ikhwan yang berada di sebrang hijab. Dengan kemudahan bantuan dari alat speaker akhwat tidak kesulitan untuk mendengar isi dari kajian yang disampaikan oleh ustadz. Panitia kajiannya pun terpisah antara ikhwan dan akhwat, sebisa mungkin akhwat tersembunyi dari pandangan ikhwan.

  1. Ketika berpapasan di jalan

Ada cerita menurut saya sangat berkesan, ketika ada kajian pagi, akhwat pergi dengan berjalan kaki melewati gang yang biasa dilewati, tiba-tiba ada ikhwan di ujung jalan, akhwat merelakan muter arah, mencari jalan lain. Saat akhwat pergi TPA dengan melewati jalan seperti yang biasa dilewatinya tiba-tiba ada ikhwan yang berjalan kearah berlawanan, menghadap kearahnya, dan si akhwat langsung balik arah mencari tempat tersembunyi sampai tidak ada lagi ikhwan yang lewat. Hal yang seperti ini terkadang ikhwan yang lebih dahulu untuk bertindak untuk puter arah , atau balik arah ketika melihat akhwat berada di ujung jalan.

  1. Ketika berada dalam satu organisasi

Tanpa kordinasi tentu suatu organisasi tak kan jalan. Tetapi cara menjalannkannya harus sesuai dengan apa yang sudah menjadi aturan. Akhwat sebagai koor menjalin kerjasama dengan akhwat lain untuk menjadi tim work akhwat, begitu juga dengan yang ikhwan. Rapat tidak panjang lebar, jika cukup di kirimkan lewat email pertemuan rapat tidak diadakan karena tidak terlalu urgent, komunikasi cukup dengan HP CP akhwat yang digunakan untuk komunikasi dengan ikhwan tentunya yang memegang hp tiap akhwat bergantian. Dan tentunya seperti yang saya jelaskan diatas, tidak memakai nomor pribadi tetapi no khusus untuk rapat, sama halnya seperti ikhwan. Dan jangan heran jika akhwat tidak tahu siapa nama-nama pengurus dari yang ikhwan, begitu juga dengan ikhwan..jangan heran jika ikhwan tidak tahu siapa pengurus-pengurus dari yang akhwat.

Hal ini yang membuat saya terheran heran, ada ya organisasi yang seperti ini, interaksi minim tetapi apa yang dirapatkan lancar-lancar saja, dan komunikasi bukan sesuatu yang menjadi pemicu masalah. Dan yang paling penting adalah..mengapa susah-susah seperti itu, toh ada cara yang lebih mudah. Mengapa susah-susah dalam menjaga? Terkesan agak lebay ya? Ya semua itu untuk menjaga, menjaga hati kita, karena tidak ada yang bisa menjamin apakah hati-hati kita masih berada posisi yang aman ataukah tidak. Setan mudah sekali untuk menggoda manusia, jika kita membuat lubang sekecil apapun lama-kelamaan lubang akan semakin membesar, maka dari itu jangan pernah membuat lubang, dan tutup rapat-rapat jangan sampai tergores oleh paku ataupun kawat, karena sedikit saja goresan tidak menutup kemungkinan menimbulkan setitik lubang. Cerita yang saya paparkan merupakan kisah nyata tidak ada rekayasa, karena penulis hanya ingin menyampaikan sepenggal kisah yang mungkin menjadi pelajaran bagi kita sebagai pengemban dakwah yang memperjuangkan dakwah islam, karena maraknya virus merah jambu di kalangan para aktivis dakwah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s