Ilmu dunia kita perjuangkan bagaimana dengan ilmu akhirat kita?

Bismillah…

Ceritaku , dikelompok tutorial 2.

Peristiwa pro dan kontra mungkin sudah biasa kita temui di sekitar kita, ada sekelumit peristiwa yang terkadang memberikan kita sedikit pelajaran, contoh kasus adalah sistem pebelajaran konvensional dan sistem pembelajaran student center, atau sering disebut dengan sistem blok, saya tidak mengajak untuk berdebat masalah pro dan kontra dari sistem blok, tetapi yang saya ingin sampaikan adalah, hikmah dari permasalahan tersebut.

Ketika kami tutorial pertama qadarullah ruang kami dimasuki salah seorang tutor yang memang kontra dengan sistem blok, beberapa perkataan beliau yang masih teringat adalah ketika membahas disiplin ilmu.

Sebagaimana pembelajaran konvensional pusat pembelajaran adalah guru, dimana murid atau penuntut ilmu mengambil ilmu dari gurunya. Pembelajaran student center yang berpusat adalah murid, guru hanya sebagai fasilitator, pusat sebesar-besarnya adalah murid, murid dituntut untuk mencari ilmu yang seluas-luasnya secara mandiri dan guru hanya mengarahkan dan tidak berperan banyak.

Mungkin beberapa orang berpendapat, bagaimana mungkin sistem yang mengarahkan murid untuk aktif dan mandiri dijadikan suatu permasalahan? Dimana salahnya?

Yang namanya murid adalah penuntut ilmu, ilmu disampaikan kepada guru, supaya pemahamannya selaras dan tidak salah kaprah. Karena jika kita hanya mencari textbook sendiri mencari referensi sendiri sebanyak-banyaknya, apa yang akan terjadi? Bisa saja murid menafsirkan buku A dengan pemahamannya, mungkin saja pemahaman murid berbeda dengan pemahaman sang guru. Dan mungkin saja buku yang dibaca oleh murid merupakan buku yang ditulis penulisnya bukan dari bidangnya atau ahlinya. Intinya dari nasihat beliau bisa disimpulkan bahwa dalam menimba ilmu kita harus berhati-hari jangan sampai kita memiliki pemahaman yang salah, dan perhatikan dari siapa kita mengambil ilmu, ilmu dan teknologi semakin berkembang, kemajuan ilmiah pun semakin berkembang pesat, kita harus merujuk buku atau referensi yang sudah memiliki dedikasi yang tinggi memiliki hasil penelitian terbaru, misalnya saja jurnal, dan yang perlu diperhatikan adalah dari siapa kita mengambil ilmu, tentunya agar kita tidak salah paham kita harus menjadi penuntut ilmu dari sang guru, dari orang yang berilmu di bidangnya, agar kita tidak sesat dan menyesatkan.

Itu tadi nasihat dari sang guru bagimana peran kita sebagai murid.. dan yang ingin saya kaitkan adalah, dalam beragama, saya rasa tidak ada pertentangan dalam mencari ilmu dunia dan lebih-lebih lagi mencari ilmu akhirat.

Al-ilmu qobla qouli wal amali, sangat menarik dibahas,, singkat namun jelas isinya…BERILMU SEBELUM BERKATA DAN BERBUAT.. tidak ada pertentangan bukan?

Dalam beragama, kita dituntut untuk berilmu terlebih dahulu..misal, bagaimana caranya sholat, puasa, zakat akan tetapi kita tidak tahu ilmunya? Bagaimana mungkin kita bisa berkata  dan mengamalkan tanpa tahu ilmunya ? mungkin kita bisa bilang, kita bisa cari informasi seluas-luasnya, kita bisa mencari buku-buku yang terkait dengan agama. Kita bisa bilang demikian namun apakah itu sesuai dengan prinsip penuntut ilmu? Apakah begini sikap seorang penuntut ilmu? Mencari informasi seluas-luasnya, menafsirkan sesuai dengan pemahamannya tanpa merujuk pemahman guru yang ahli dalam bidangnya ? Mencari buku-buku terjemahan yang penulisnya bukan dari bidangnya? Jika pemahaman kita seperti itu tidak lain dan tidak bukan maka kita SESAT DAN MENYESATKAN.

Prinsipnya dalam menuntut ilmu dunia terlebih menuntut ilmu akhirat jangan kita bedakan, karena prinsipnya adalah sama, kita ingin mengamalkan ilmu tersebut, sesuai dengan pemahaman yang benar tidak sesat dan menyesatkan tentunya.

Yang kontra blok meneriakan kembalikan sistem blok kepada sistem konvensional, belajar dari guru yang ahli dalam bidangnya, perhatikan darimana kita mengambil ilmu, perhatikan buku-buku refrensi yang kita baca. Dalam beragama kita juga memakai sistem konvensional, kita belajar dari guru yang ahli dalam bidangnya (ahli hadist, ahli fiqih, ahli tafsir), dari seorang  syekh (profesor ulama), kaji buku-buku para ulama, buku-buku asli bukan buku-buku terjemahan yang terkadang penerjemah bukan ahli dibidangnya, teliti lagi, apakah sesuai dengan al-qur’an dan assunnah? Apakah sesuai dengan pemahaman Rasulullah dan para sahabat?

Ilmu agama juga tidak lepas dari penelitian yang membuat para ulama berfikir keras mengenai status hadist, apakah ini hadist dhaif(lemah), apakah shahih (benar), apakah maudhu’(palsu), tidak hanya hadist, problematika umat pun demikian sebagaimana dengan kaidah fiqih karena semakin bertambahnya kemajuan dunia semakin pelik juga permasalahan umat. Dan yang mampu untuk membahas permasalahan yang demikian tidak lain dan tidak bukan ialah orang yang berilmu, dan yang ahli dalam bidangnya, tentunya yang sesuai dengan al-qur’an dan sunnah, sesuai dengan pemahaman rasulullah dan para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s