Laporan Vs Belajar Islam

60064_365510590210722_1797451397_nMasih terbetik kejadian demi kejadian yang memang sangat membingungkan, saya kira cukup saya ceritakan saja pengalaman yang mengajak kita untuk berfikir dan lebih kritis.

Di kampus, ya tuntutan kuliah tentu saja sering menjadi rutinitas bagi mahasiswa, terutama saya, dalam hal ini tepatnya di saat saya ingin membuat sebuah LAPORAN, dimana laporan ya seperti biasa laporan LO (learning objective) bagi yang tahu sistem blok pasti mengalaminya dan laporan praktikum pun juga ya. Dalam membuat laporan ya tentunya, kita dituntut untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya dari jurnal-jurnal nasional, jurnal internasional dari buku-buku referensi yang terpercaya akan pembuatannya, harus benar-benar  ahli dalam bidangnya, karena kevalidan itu penting, penting sekali kita mencantumkan sebuah kutipan, atau teori baru dan orang-orang cendekia akan sangat kritis menanggapinya, ini dikutip dari mana? Buku referensi karangan siapa? Dari jurnal apa? Siapa pembuat jurnalnya? Apakah si pembuat jurnal ahli dalam bidangnya? Masih banyak sekali aturan-aturan yang bagi saya sangat merepotkan dalam mencari sumber yang demikian. Dalam membuat kutipan juga kita diharuskan untuk MELAMPIRKAN paragraf yang kita kutip dan harus disitasi dengan stabilo, bagi yang terbiasa mengerjakan laporan tentu sudah tahu aturan mainnya, seperti jumlah minimal referensi, jumlah mininal jurnal yang harus dicantumkan. Inilah validisasi, semua harus benar-benar JELAS dan SAHIH.

Sekarang saya mengajak kalian untuk berfikir, yang demikian tadi contoh di atas adalah dalam perkara dunia. Bagaimana dengan perkara akhirat? Bagaimana dengan kita dalam beragama? Dalam mengambil ilmu agama? Adakah dari kita yang memiliki sikap kritis yang demikian? Dari mana kita mengambil ilmu agama kita? Dari siapa kita mengambil ilmu agama kita? Apakah orang yang kita ambil ilmunya itu adalah orang yang benar-benah ahli dalam fiqih? Ahli dalam hadits? Ahli dalam aqidah?

Astaghfirullah. Begitu mudahnya kita mencomot sana-sini, mengutip sana-sini, tanpa tahu kejelasan ilmu yang disampaikannya itu.

Ya ikhwah… Agama kita ini bukan sampah yang seenaknya saja bisa diambil sana-sini, tanpa ada dasar yang jelas.

Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah dalam muqoddimahnya di dalam kitab fiqih nisa menuliskan, “Temukanlah dalil sebelum engkau berkeyakinan dan jangan berkeyakinan sebelum engkau temukan dalil.

Lalu apa lagi yang harus kita tunggu? Menunggu sampai kita benar-benar tersesat? Menunggu sampai terombang-ambing dalam perkara akhirat?

Na’udzubillah…tsumma na’udzubillah…Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan dan kebodohan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s