Kupas Tuntas Interaksi Muslim Terhadap Hewan

Bagaimana cara mensucikan najis dari air liur anjing?

Jawab:

Dari abu hurairah radhiallahu anhu : “ Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”jika anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian hendaknya ia basuh bejana itu sebanyak tujuh kali”

Dalam riwayat muslim, “basuhan  yang pertama adalah tanah”

Dan bagi Muslim dalam hadist Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “jika anjing menjilat dalam bejana, hendaknya kalian basuh tujuh kali dengan melumurkan yang kedelapan dengan tanah.”

Makna global:

Syariat memerintahkan untuk mencuci bejana yang telah dijilati anjing sebanyak tujuh kali,yang pertama dengan cara melumurinya dengan tanah lalu dengan air. Dengan demikian akan didapatkan kebersihan sempurna terhadap najis dan segala bahayanya.

Perbedaan pendapat para ulama:

Ada perbedaan pendapat diantara para ulama tentang beberapa hal, antara lain , apakah pelumuran dengan tanah itu wajib? Pendapat yang benar adalah seperti yang difahami jelas oleh hadist ini.

Manfaat hadist:

  1. Penegasan akan najisnya anjing, dengan demikian anjing tetap najis walaupun tidak terkena bekas najis
  2. Jika anjing menjilat dalam bejana dan tempat makan, maka wadahnya itu menjadi najis, demikian pula sisa isinya juga najis.
  3. Wajib mencuci bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali
  4. Wajib menggunakan tanah satu kali, dan diutamakan pada yang pertama agar sesudahnya dapat terguyur oleh air. Bisa juga pada pembersihan ke delapan sesuai dengan riwayat lain. Tidak ada bedanya apakah air yang dimasukan ketanah atau tanah yang dimasukan ke dalam air atau tanah dicampur dengan air. Mencuci atau sekedar mengusap tempat terkena najis dengan tanah saja tidaklah cukup.
  5. Bahwasannya bahan lain yang dapat menggantikan tanah dalam membersihkan memberi hikmah tentang hal ini karena yang dimaksud bukan sekedar tanahnya tapi yang dimaksud adalah kebersihannya, ini adalah pendapat imam ahmad, imam syafi’i dan yang masyhur menurut mahzab syafi’i menetapkan dengan tanah. Juga dikuatkan oleh ibnul daqiiqil ‘id karena tanah disebutkan oleh nash sebagai salah satu benda yang mensucikan. An-nawawi berkata,” yang benar ,tidak ada yang dapat menggantikan posisi tanah, baik itu sikat, sabun atau yang lainnya. “saya katakan ,”telah jelas bukti menurut penelitian ilmiah bahwa tanah menghilangkan kenajisan yang tidak dapat dilakukan oleh unsur lain. Jika hal ini benar, maka ini merupakan salah satu mukjizat syariat islam yang mulia.” Sedangkan kata ‘affiruuhu menunjukan kekhususan tanah karena al-‘afr secara bahasa berati pemukaan bumi tanah.
  6. Kemuliaan syariat yang suci ini, yang turun dari Dzat yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui yang dilaksanakan oleh nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam  yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Hal ini membuat bingung sebagian ulama dalam menerangkan hikmah penegasan najis ini. Karena disini ada najis lain yang disebutkan penegasannya tapi tidak ditekankan untuk disucikan. Beberapa kelompok ulama berpendapat : “ Tatacara dalam pensucian bekas jilatan anjing ini mempunyai kaitan ubudiyah dan tidak disebutkan hikmahnya. Ada seorang dokter dimasa modern ini yang menjelaskan hasil penelitiannya, bahwa air liur anjing mengandung mikroorganisme dan kuman penyakit  berbahaya yang tidak cukup hanya dicuci satu kali.” Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan keberuntngan bagi orang yang percaya dan celakalah bagi para pembangkang.
  7. Zhahir hadist menunjukan kemumuman untuk semua jenis anjing, meskipun anjing yang diperbolehkan untuk dipelihara oleh sang Pembuat Syariat, seperti anjing buruan ,penjaga, dan penunjuk jalan. Dikatakan wajibnya membasuh apa yang terkena adalah suatu kesulitan, sehingga ada rukshah dalam penggunaannya yang kemudian menyebar kepada pengkhususan pencucian ini.

 

Saat berhaji binatang apa sajakah yang boleh dibunuh?

 

Jawab:

Dari Aisyah Rhadiyallahu anha, bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah bersabda: “lima binatang, kesemuanya fasiq boleh dibunuh ditanah haram ; burung gagak, burung rajawali, kelajengking , tikus dan anjing yang mengganggu manusia, Dan bagi muslim: “ dibunuh lima binatang ditanah halal ataupun di tanah haram.”

 

Makna global:

Diantara binatang ternak ada binatang yang tabiatnya membahayakan maka binatang ini boleh dibunuh ketika berada ditanah halal, ditanah haram dan ketika ihram.

Diantara binatang yang mengganggu /membahayakan ada lima yang telah diberi peringatannya oleh Dzat Yang Maha Pembuat Syariat.

Kelima binatang tersebut adalah burung gagak yang merusak buah-buahan, burung rajawali yang menyerang pakaian dan perhiasan, dan anjing yang mengganggu manusia.

Dan disebutkannya beragam dikarenakan gangguannya berbeda-beda maka keikutsertakan kepada lima macam tersebut binatang apa saja yang jenis gangguannya sama dari seluruh macam binatang, lalu dibunuh dikarenakan mempunyai sifat mengganggu dan berbahaya, karena sesungguhnya tanah haram tidak melindungi binatang-binatang tersebut dan begitu pula berihram tidak memberikan perlindungan.

Perbedaan pendapat para ulama:

Ulama berbeda pendapat apakah membunuhnya ini berlaku pada binatang yang lain atau tidak, abu hanifah  berpandangan bahwa hukumnya tidak berlaku kepada binatang yang lainnya, karena hukum ini dikaitkan dengan julukannya dan julukannya tidak menuntut adanya interpretasi menurut pandangan mayoritas ahli ushul.

Jumhur ulama berpendapat hukum itu berlaku bagi binatang lainnya. Mereka berbeda pendapat akan makna yang karenanya hukum tersebut berlaku pada binatang yang lainnya.

Asy-syafi’i berpandangan karena binatang tersebut tidak dikonsumsi, maka diperbolehkan untuk dibunuh tanpa ada fidyah dan denda.

Sedang imam malik dan Ahmad berpendapat bahwa makna yang memadukan binatang yang telah disebutkan dalam hadist dan binatang lainnya yaitu tabiatnya mengganggu.

Dan ini merupakan qiyas yang bagus karena mampu mencerna akan sebab dilarangnya berdasarkan nash syar’i dan ini merupakan ciri utama dan pokok yaitu fisq dan jika ciri dan sebab tersebut ada pada yang akan diqiyaskan maka qiyas telah sempurna, terlebih hukum itu berlaku dengan sebab ada atau tidak adanya illat.

Penyempurnaan :

Binatang itu ada empat kategori

  1. Binatang jinak seperti binatang ternak yang dibolehkan untuk disembelih dalam seluruh kondisi
  2. Binatang yang tidak dikonsumsi namun tidak mengganggu, maka binatang ini dimakruhkan untuk dibunuh dan jika dibunuh maka tidak ada denda.
  3. Binatang yang menggangu seperti yang telah disebutkan dalam hadist dan yang semakna, binatang ini disyariatkan untuk dibunuh baik dalam kondisi keadaan halal, berihram dan ditanah haram dan saat dibunuh tidak ada denda apapun.
  4. Binatang didaratan yang dikonsumsi yaitu binatang buruan, membunuhnya ditanah haram dan saat ihram terdapat denda dan hukuman.

 

Manfaat hadist :

  1. Disyariatkannya membunuh binatang yang disebutkan dalam hadist baik ditanah Haram atau di tanah halal.
  2. Membunuhnya dikarenakan adanya sifat kotor dan mengganggu maka diikutsertakan dalam hukum ini seluruh binatang yang tabiatnya mengganggu.
  3. Gangguan itu tidak hanya satu macam, maka setiap membahayakan terhadap keselamatan jiwa atau harta atau bahaya lainnya, maka itu dikatakan gangguan dan bagi binatang yang terdapat unsur ini tidak ada kehormatannya, oleh karena itu diberi peringatan akan keragaman gangguan disebabkan keragamannya jenis binatang, Allah ta’ala Maha Bijaksana dengan ciptaanNya dan Maha Adil dalam hukumNya.

 

Apa yang dimaksud dengan al-hadyu, dan bagaimana cara memperlakukannya dengan baik ?

al-hadyu adalah sesuatu yang dikurbankan kepada baitullah al-haram yang berasal dari onta , sapi, kambing dan sejenisnya.

Yang dimaksud dengan dipersembahkan kepada baitullah al-haram adalah sikap dermawan dan berbuat baik kepada yang tinggal bersebelahan dengan baitullah dan yang mengunjunginya dari kalangan orang fakir dan miskin. Dan ini termasuk dalam kategori perbuatan ibadah yang paling utama disisi Allah Ta’ala.

Karena shadaqah dan infaq termasuk dalam kategori ibadah-ibadah yang paling utama. Terlebih jika dilakukan ditanah haram dan  diberikan kepada orang-orang yang mencurahkan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala di Baitullah dan yang bertempat tinggal berdampingan dengan Baitullah.

 

Dari Aisyah rhadiyallahu anha, ia berkata:” aku telah memintal kalung-kalung binatang-binatang sembelihan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan ku, kemudian beliau mengumumkannya dan beliau mengikatnya atau ia ikatkan kembali kemudian dibawa ke Baitullah dan beliau tinggal dimadinah dan tidaklah beliau mengharamkan sesuatu yang sebelumnya telah halal.”

 

Makna global :

Nabi shalallahu’alaihi wasallam selalu mengagungkan dan memuliakan Baitullah. Beliau, jika tidak bisa sampai Baitullah dengan sendiri maka beliau mengirim hadyu, binatang sembelihan sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau kepadanya sekaligus dalam rangka berbagi rezeki kepada orang-orang yang tinggal ditempat tersebut.

Jika beliau mengirim hadyu maka beliau memberinya tanda dan mengikatnya dengan kalung agar manusia mengetahui bahwa binatang tersebut adalah hadyu ke Baitullah al-haram sehingga mereka memperhatikannya dan tidak mengganggunya.

Aisyah rhadiyallahu anha mengisahkan sebagai penguatan terhadap informasi tersebut, bahwa binatang tersebut diikat dengan kalung.

Dan jika Rasulullah mengirim binatang hadyu tersebut, padahal beliau mukmin dan bertempat tinggal di madinah beliau tidak menjauhi sesuatu yang dijauhi oleh muhrim dari wanita, minyak wangi, mengenakan pakaian berjahit, dan yang sejenisnya bahkan tetap melakukan hal-hal yang halal bagi dirinya yang memang sebelumnya halal.

 

Manfaat hadist :

  1. Dianjurkannya mengirim binatang hadyu ke Baitullah al-haram yang berasal dari negri yang jauh meskipun tidak ditemani oleh yang berkurban, karena sesungguhnya penyerahan hadyu itu satu bentuk shadaqah terhadap orang-orang miskin yang tinggal ditanah haram, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap Baitullah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mengalirkan darah sebagai bentuk ketaatan kepada –Nya.
  2. Dianjurkan menandai binatang hadyu dan mengumumkannya serta memberi kalung dengan kulit,sandal daun-daun yang merupakan upaya menentang adat dan tradisi kebanyakan manusia agar mereka agar mereka mengetahuinya dan menghormatinya serta menjaganya.
  3. Orang yang memberi binatang hadyu tidak serta merta menjadi muhrim (berihram) dengan sebab mengirimkan binatang hadyunya, karena ihram itu adalah berniat untuk menunaikan manasik haji.
  4. Orang yang menyerahkan hadyu tidak diharamkan atasnya sebagaimana yang telah diharamkan bagi muhrim (orang yang berihram) berupa larangan-larangan ihram. Ibnul Mundzir berkata: “ jumhur dan mayoritas ulama berpendapat :’ dengan sebab menyerahkan binatang hadyu tidak serta merta menjadi muhrim dan tidak ada kewajiban atasnya sesuatu apapun’. Sebagian ulama berpendapat :” dengan pendapat tersebut para ahli fiqih berpendapat.”
  5. Bahwa syariat itu memperhatikan sisi kemaslahatan secara khusus atau kemaslahatan yang paling dominan. Karena memberi tanda pada binatang tersebut terdapat unsur menyakiti terhadap binatang tersebut tetapi kemaslahatan dengan pemberian tanda dan mengagungkannya serta menunjukan ketaatannya kepada Allah Ta’ala saat berkurban itu lebih dominan daripada dampak negatifnya yang sangat sedikit.
  6. Yang utama adalah mengirimkan binatang sembelihan tersebut dengan diberi tanda atau dikalungi sejak dikirimkan dari negri asalnya dan tidak ditandainya saat berihram agar supaya terjaga dan dihormati oleh orang yang terlintasi diperjalanan sekaligus dapat meminculkan semangat berlomba dalam berbagai aktifitas ibadah yang kemanfaatannya bernilai ibadah.

 

Hewan apa yang paling utama untuk dijadikan hadyu?

 

Dari Aisyah radhiyallahu anha ,ia berkata : “Nabi shalallahu’alaihi wasallam berkurban dengan seekor kambing.”

 

Makna global:

Yang paling banyak dijadikan sebagai hadyu oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ke Baitullah Al-haram adalah onta, dikarenakan onta lebih banyak manfaatnya dan lebih besar pahalanya. Aisyah rhadiyallahu’anha mengisahkan bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menyerahkan hadyu seekor kambing hanya sekali.

Bolehnya menyerahkan hadyu (binatang kurban) itu berasal dari binatang ternak dan sejenisnya, akan tetapi dengan binatang ternak lebih menampakan syi’arnya kepada Allah Ta’ala dan penumpahan darahnya dalam rangka mengharap ridha Nya, maka keduanya bernilai sebagai ibadah, yaitu shadaqah dan penumpahan darah dalam rangka mengharap keridhaanNya setelah sebelumnya mereka lakukan penumpahan darah tersebut untuk patung-patung dan thaghut.

 

Manfaat hadist :

  1. Diperbolehkan menjadikan kambing sebagai hadyu ke Baitullah yang mulia
  2. Yang paling banyak dijadikan sebagai hadyu dan harta yang paling berharga dikalangan bangsa arab adalah onta.

 

Bolehkah menunggangi hewan sembelihan yang sudah tua?

Dari abu Hurairah rhadiyallahu ‘anhu bahwa Nabiyullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang menggiring onta, beliau bersabda:” tunggangilah onta itu.” Ia menjawab:” sesungguhnya ini adalah onta yang sudah tua.” Beliau bersabda:”tunggangilah.” Maka aku melihatnya mengendarainya mendahului Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan dalam satu lafadz:” beliau mengatakan pada kali kedua atau ketiga:”tunggangilah, celakalah engkau” atau kecelakaan atasmu”

 

Makna global:

Apa saja yang dihadiahkan ke Baitullah tidak dapat diambil manfaatnya sedikitpun tanpa adanya kebutuhan dan keperluan terhadap hal tersebut, karena telah dikeluarkan dengan mengharap keridhaan Allah Ta’ala dan dapat ditarik kembali padanya.

Namun jika diperlukan untuk dikendarai atau diperah air susunya maka tidak ada dosa baginya selama pengambilan air susu dan saat dijadikan kendaraan tidak membahayakan dan menyakiti binatang tersebut.

Oleh karena itu, tatkala Nabi shalallhu’alaihi wa sallam melihat seseorang mengiringi onta sedangkan ia sangat butuh untuk mengendarainya maka nabi mengijinkannya untuk dipergunakannya dan bahkan memerintahkannya.

Dikarenakan binatang yang akan dijadikan sebagai sembelihan kurban itu diagungkan dikalangan dikalangan mereka dan tidak diperkenankan untuk disakiti, seraya mengatakan:”sesungguhnya ini merupakan onta yang disiapkan untuk sesembelihan kurban ke Baitullah.” Maka beliau bersabda:” tunggangilah meskipun binatang itu telah disiapkan untuk sembelihan kurban ke Baitullah.”

Namun ia mengulanginya hingga dua kali atau ke tiga kalinya maka beliau tetap bersabda:” tunggangilah !” dengan nada keras ditunjukan kepada yang diajak berdialog.

 

Manfaat hadist :

  1. Penghormatan dan pengagungan bangsa arab terhadap binatang sembelihan, dan penghormatan ini menancap dan menghujam dihati-hati mereka, kemudian islam dating dengan memperkuat terhadap penghormatannya.
  2. Diperbolehkan untuk mengendarai dan memerah air susunya, jika hal itu sangat dibutuhkan dan diperlukan dengan syarat tidak membahayakan dan menyakitinya dan ini merupakan pendapat yang paling bijak, dikarenakan mampu memadukan sebagai macam dalil.
  3. Kami membatasinya ( dengan syarat tidak menyakiti hadyu) karena adanya dalil yang telah diriwayatkan oleh muslim dari jalan jabir, ia berkata : “aku telah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tunggangilah dan naikilah dengan cara yang baik jika engkau sangat membutuhkan kepadanya hingga engkau dapati tunggangan lain.”

 

Bolehkah memberikan upah pada jagal berupa daging sembelihan?

 

Dari Ali bin abi thalib rhadiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkanku untuk merawat seekor onta dan aku diperintahkan untuk menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan punuknya dan aku tidak diperkenankan untuk memberikan sedikitpun dari binatang yang telah disembelih kepada yang menyembelih, seraya beliau besabda: ‘kami akan memberinya dari harta kami yang lain.”

 

Makna global:

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam tiba di Mekah pada haji wada’ dengan membawa binatang sembelihan , dan Ali rhadiyallahu’anhu tiba dari Yaman dengan membawa binatang sembelihan juga.

Jumlah hadyu ‘binatang kurban’ yang telah dikurbankan oleh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam sebanyak seratus onta , yang beliau sembelih dengan tangannya sendiri adalah enam puluh tiga ekor dan beliau perintahkan Ali untuk menggantikan beliau sebagai penyembelih binatang hadyu sejumlah yang tersisa lalu beliau mensedekahkan dagingnya tersebut.

Dikarenakan hadyu itu diperuntukan ke Baitullah maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tidak senang untuk mengambil sedikitpun dari binatang hadyu tersebut. Oleh karena itu, beliau perintahkan agar dagingnya, kulitnya, dan punuknya untuk disedekahkan.

Karena hewan tersebut telah dijadikan sedekahan untuk orang miskin dan fakir, maka tidak ada hak bagi yang telah menyerahkan binatang hadyunya untuk mengatur dan membagikannya atau sebagian kecil dari binatang tersebut dengan cara menggantinya.

Dan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam telah melarang kami untuk memberikan kepada orang yang menyembelihnya sedikitpun dari binatang tersebut sebagai ganti atau upah atas pekerjaannya. Melainkan beliau menjanjikan untuk memberikan upahnya bukan dari dagingnya, kulitnya dan bagian tubuh yang lain.

 

Manfaat hadist:

  1. Disyariatkannya hadyu dan ini termasuk bagian dari perbuatan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam
  2. Dan yang paling utama adalah banyak jumlahnya dan banyak manfaatnya. Nabi shalallahu’alaihi wa sallam telah menyerahkan hadyunya sebanyak seratus ekor onta.
  3. Hendaknya untuk disedekahkan dari hadyu tersebut seluruhnya, mulai dari kulitnya dan ujung-ujung dari binatang tersebut, bagi yang berkurban diperkenankan untuk menikmati dari hadyu yang sunnah, hadyu tamattu’ dan hadyu qiran sebanyak sepertiga atau kurang dari sepertiga.
  4. Hendaknya tidak memberikan kepada penjagalnya sedikitpun dari binatang hadyu tersebut sebagai ganti dan upah atas kerjanya melainkan diberikan kepadanya harta sedekah dan diberi hadiah dari binatang tersebut sebagai hadiah. Ibnu Daqiqil ‘id berkata: “ dan yang dikhawatirkan dari hal tersebut akan terjerumus dalam toleransi berkenaan dengan upah dikarenakan apa yanag telah diperoleh oleh si pemotong atau penjagal berupa daging, sehingga dianggapnya sebagai upah dang anti pada saat yang bersamaan.” Al-Baghawi berkata:” Adapun jika si pemotong itu diberi upah secara lengkap kemudian diberikan sedekah kepadanya dari binatang hadyu tersebut dikarenakan ia termasuk dalam kategori fakir, maka tidaklah berdosa dan salah.”
  5. Diperbolehkan mewakilkan dalam proses penyembelihan kepada orang lain dan juga dalam mensedekahkannya.

Pada posisi seperti apa onta, sapi atau kambing disembelih?

Jawab:

Dari Ziyad bin Jubair rhadiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku telah melihat Ibnu Umar rhadiyallahu’anhuma mendatangi seseorang yang menderumkan ontanya untuk di nahrkan ( disembelihnya ), maka ia berpesan: ‘Bangkitkanlah binatangnya sehingga dalam keadaan berdiri dan terikat karena itu merupakan sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Makna global:

Yang disunnahkan dalam hal sapid an kambing serta hewan yang sejenisnya selain dari onta disembelih dari kerongkongan dalam keadaan miring pada sisi kirinya dan dihadapkan ke kiblat.

Sedang pada onta, maka menurut sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam maka penyembelihannya pada bagian lehernya dalam keadaan berdiri dan dibiarkan lepas pada tangan kirinya, karena dengan cara tersebut lebih nyaman bagi ontanya dan lebih cepat kematiannya.

Oleh karena itu, ketika Abdullah bin Umar rhadiyallahu’anhuma lewat dan melihat seseorang yang akan menyembelih onta yang telah diderumkan dia berkata: “Biarkanlah onta tersebut berdiri dan terikat, dan ini merupakan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam, oleh karena itu cara semacam ini telah mengikuti petunjuk jejak serta adab dalam al-qur’an surat al-hajj36:” Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri(dan telah terikat).”Maka pengertian wajabat adalah saqathat (roboh) dan roboh itu tidak akan terjadi kecuali sebelumnya berdiri.

 

Manfaat hadist :

  1. Sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dalam menyembelih onta adalah dalam keadaan berdiri dan terikat, karena dengan cara tersebut termasuk bersikap ihsan dalam penyembelihan sekaligus bukti kasih sayang terhadap binatang tersebut. Yang mengisyaratkan pada kesimpulan ini adalah firman Allah yang telah disebutkan sebelumnya. Dan sungguh Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma: “Shawaaf (memiringkan atau mencondongkan) dan dalam keadaan berdiri.” Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “As-shawwaaf dengan tasydid bentuk jamak dari kata shaafah yakni agak miring dalam berdirinya.”
  2. Makruh hukumnya menyembelih unta dalam posisi menderum (didudukan) karena hal itu akan memperpanjang rasa sakit saat nyawanya melayang.
  3. Kebiasaan manusia saat ini, onta disembelih dalam keadaan menderum dan terikat. Apabila mereka tidak mampu menyembelihnya dengan posisi demikian dan dikhawatirkan tidak bias berbuat ishan terhadap binatang tersebut, maka sebaiknya disembelih dalam kondisi menderum atau sesuai dengan kemampuan.
  4. Termasuk bukti kasih sayang Allah dan lemah-lembutNya kepada ciptaanNya sampai saat menghilangkan ruhnya. Seperti hukum-hukum  yang penuh dengan nuansa kasih saying semacam ini dan kelemahlembutan yang sangat besar dapat diketahui bahwa islam merupakan agama lemah lembut dan kasih sayang dan bukan agama liar dan keras. Maka siapa saja yang mempropogandakan tuduhan bahwa islam adalah agama kekerasan maka sesungguhnya mereka ( yang menuduh) telah membunuh orang-orang baik dari keturunan Adam ‘alaihi wa sallam di dalam rumah mereka, mudah-mudahan mereka mampu memahami kebenaran ini.

 

Boleh kah anjing di perdagangkan ?

Jawab:

Dari Abu Mas’ud al- Anshari radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam melarang dari harga (jual beli) anjing, upah pelacuran, dan upah perdukunan.”

 

Makna :

Makna jual beli anjing, sesungguhnya cara ini merupakan cara yang buruk dan kotor serta najis, maka harganyapun juga kotor dan tidak diperkenankan untuk dikonsumsi dan tidak bias diubah menjadi halal.

Manfaat hadist:

Larangan menjual belikan anjing dan haramnya haramnya harga jual belinya. Tidak ada bedanya anjing yang sudah terlatih dan yang liar ( tidak terlatih ), anjing yang digunakan untuk berburu atau yang lainnya, tiga model anjing ini hanya diperbolehkan untuk diambil manfaatnya.

 

Dari RAfi’ bin Khadij radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Harga penjualan anjing adalah kotor, upah pelacuran juga kotor, dan upah dari membekam juga kotor.

 

Manfaat hadist :

Syaikhul islam berpendapat : “Jika sesuatu yang haram itu telah diketahui secara dzatnya maka tidak diperbolehkan mengkonsumsinya dengan tegas, dan jika tidak diketahui dzatnya maka tidak diharamkan untuk mengkonsumsinya, akan tetapi jika yang haran itu lebih dominan maka hendaknya ditinggalkan sebagai sikap wara’ dan kehati-hatian.

 

Apa hukum memakan daging kuda?

Jawab:

Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu’anhuma, dia berkata: “Kami pernah menyembelih seekor kuda pada zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam lalu kami memakannya.” Dalam satu riwayat disebutkan ,” ketika kami berada di Madinah.”

 

Kesimpulan hadist:

  1. Hadist ini merupakan dalil atas halalnya memakan daging kuda, yang mana ia dimakan pada zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan beliau juga menetapkannya. Telah disebutkan satu hadist di dalam kitab Ash-shahihain dan juga selain keduanya dengan lafadz, “ Kami pernah menyembelih seekor kuda pada zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam , yaitu kami dan keluarga beliau.” Di bagian mendatang akan dikemukaan pendapat orang yang menentang penghalangnya.
  2. Dalam sebagian lafadz hadist disebutkan dengan menggunakan adz-dzabhu dan sebagian yang lain disebutkan dengan an-nahru. Yang dimaksud dengan an-nahru ia menebaskan benda tajam di bagian leher bawah sehingga memutuskan urat lehernya, hal ini berlaku untuk unta. Sedangkan adz-dzabhu ialah memutuskan urat leher yang berlaku bagi binatang selain onta. Boleh jadi an-nahru disamakan dengan adz-dzabhu sebagai perluasan makna dan sebagai majaz.
  3. Perkataan, “ Sedang kami berada di Madinah,” menolak pendapat orang yang mengatakan, bahwa penghalangnya dinasakh atau dihapus karena tujuan jihad, disebabkan kebutuhan terhadap kuda itu (untuk kendaraan perang).

 

Bagaimana dengan daging keledai, apakah juga diperbolehkan?

jawab:

dari jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu bahwa rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan keledai negeri (jinak/piaraan) dan membolehkan memakan daging kuda.” Dalam riwayat muslim saja disebutkan,” Sewaktu perang khaibar kami memakan daging kuda dan keledai liar, dan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam melarang memakan daging keledai negri (jinak/piaraan)

 

dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Kami mengalami kelaparan pada malam-malam di Khaibar. Ketika terjadi perang Khaibar kami mendapatkan keledai negeri, lalu kami menyembelihnya. Setelah periuk mendidih, seorang penyeru Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam berseru, ‘ Balikan (tumpahkan )isi periuk itu.’ Boleh jadi ia berkata, ‘Janganlah kalian memakan daging keledai jinak/piaraan sedikitpun.”

 

Dari Abi Tsa’labah radhiyallahu’anhu ia berkata,”Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah mengharamkan untuk memakan daging keledai jinak/piaraan.”

 

Makna dari ketiga hadist diatas adalah :

  1. Dilarang mengambil daging keledai jinak/piaraan dan haram memakannya. Menurut Ibnu daqiqil Id, tidak ada perbedaan dikalangan ulama saat ini tentang keharamannya. Sebelum diharamkan dan sebelum ada perintah untuk menuang daging keledai piaraan dari periuknya, ia tetap pada hokum asalnya, yaitu halal.
  2. Alasan pengharamnnya karena ia kotor dan najis. Telah disebutkan dalam sebuah hadist,” Sesungguhnya daging keledai itu kotor,” dengan begitu air seni, kotoran, dan darahnya adalah najis.
  3. Penghalalan daging kuda, karena ia dianggap makanan yang baik.
  4. Halalnya keledai liar, karena ia termasuk binatang buruan yang dapat dimakan dan dianggap baik.

 

Perbedaan pendapat para ulama:

Abu Hanifah dan Malik dalam sebagian pendapatnya mengharamkan daging kuda, disebagian pendapatnya yang lain, memakruhkannya. Sebagian penganut mahdzab mereka berdua juga mengharamkannya dan sebagian lain memakruhkannya. Mereka berhujjah dengan beberapa dalil berikut ini:

  1. Firman Allah,”..Dan ( Dia telah menciptakan ) kuda, baghal dan keledai agar kalian menungganginya dan (menjadikan) sebagai perhiasan.” (QS. An-nahl:8) sisi penunjukan ayat ini bahwa kuda disebutkan beriringan dengan baghal dan keledai yang diharamkan. Demikian juga huruf lam dalam firman Allah, “ Litarkabuha” (agar kalian menungganginya) dimaksudkan sebagai pemberian alasan, hal ini memberi pengertian bahwa ketiga binatang tersebut tidak diciptakan bagi selain itu. Karena alasan yang diredaksikan disini mengharuskan pembatasan, maka penghalalan memakannya mengharuskan penentangan zhahir ayat ini. Disamping itu pula ayat ini disebutkan dengan ungkapan sebagai pemberian (karunia). Sekiranya ia dapat dimanfaatkan untuk dimakan, tentunya ungkapan untuk menunjukan pemberian karunia tersebut jauh lebih agung.
  2. Hadist yang diriwayatkan Ath-thawawi dan Ibnu Hazm, “Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam melarang memakan daging kuda dan baghal.” Begitu pula yang diriwayatkan Ashabus sunan, “Dari Khalid bin al-Walid, bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam melarang memakan daging kuda sewaktu perang Khaibar.”
  3. Kuda dan keledai memiliki kemiripan yang kuat yang mengharuskan penyetaraan kuda dan keledai. Imam Syafi’I, Ahmad, al-Laits, Hamad, dan Abu Tsaur berpendapat halalnya daging kuda. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Az-zubair, al-Hasan, Ibnu Sirrin, Atha’, al-Aswad dan Ibnul Mubarak.

Mereka berargumen dengan berbagai hadist atsar yang mutawatir tentang penghalalannya, dalil-dalil ini dapat membatalkan dan membantah semua argument lain. Mereka juga berhujjah bahwa itulah yang dilakukan para sahabat semua. Sebagian Tabi’in telah meriwayatkan penghalalannya dari para sahabat tanpa ada seorang pun diantara mereka yang dikecualikan.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Atha’, dan dia berkata kepada ibnu Juraij, “ Orang-orang sebelummu masih memakan daging kuda.” Ibnu Juraij bertanya: “Apakah yang engkau maksudkan para sahabat?” Dia menjawab, “Benar.”

Mereka menanggapi dalil-dalil yang disampaikan mahdzab Hanafi dan Maliki dengan jawaban sebagai berikut :

Adapun ayat al-karimah yang dijadikan dalil atas haramnya kuda, didalamnya tidak terkandung dalil, karena ia merupakan ayat makiyah, menurut ijma’ sementara hadist-hadist ini merupakan hadist Madaniyah juga berdasarkan ijma’, hal ini berarti penghalalannya terjadi setelah turunnya ayat ini. Usaha-usaha untuk berargumen dengan ayat ini, tetap tidak mencukupi sebagai dalil. Karena jika kita menerima bahwa huruf lam ialah pembatasan yaitu hanya dijadikan sebagai kendaraan dan perhiasan, karena telah disepakati jika masih ada manfaat lain yang diambil dari kuda selain dua manfaat yang disebutkan ini. Penyebutan dua manfaat di dalam ayat itu, karena itulah manfaat yang paling menonjol.

Adapun dalil penyebutan secara berurutan antara kuda, baghal dan keledai adalah dalil lemah dan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, khususnya hal ini bertentangan dengan hadist-hadist yang shahih dan jelas maknanya. Adapun dengan ungkapan pemberian karunia disebutkan karena disesuaikan dengan kebiasaan orang Arab yang menyukai kuda dan kesenangan mereka ketika memandangi keelokannya saat ia berjalan, ketangkasannya serta kegunaannya untuk ditunggangi ketika berburu, merupakan kesenangan yang paling besar, disamping untuk melakukan serangan dan menyerang musuh secara mendadak, juga dapat ditunggangi ketika menyerbu ke depan dan mundur ke belakang. Nikmat-nikmat Allah tidak harus disebut hanya pada satu tempat saja. Allah mempunyai kenikmatan-kenikmatan yang agung dan melimpah.

Adapun mengqiyaskan kuda dengan keledai, maka tidak boleh memalingkan dengan mengatakan kuda sama dengan keledai kecuali ada nash atau dalil. Adapun hadist yang diriwayatkan ath-thawawi, didalamnya ada ikrimah bin Amar, dari yahya bin Abu Katsir. Menurut ath-thawawi, para ahli hadist menda’ifkannya. Menurut Yahya bin Sa’id al Qhathan, hadist-hadist dari jalur Yahya bin Abu Katsir adalah dha’if. Menurut Al-Bukhari hadist dari yahya mudhtharib dan para ulama hadist banyak berkomentar jelek (jahr) tentangnya.

Adapun hadist yang dinisbatkan kepada Khalid bin Al-Walid, para ulama berkata bahwa hadist itu cacat ( syadz) dan mungkar, karena dalam redaksinya disebutkan bahwa dia ikut dalam perang Khaibar. Hal itu keliru , karena ia tidak masuk islam kecuali setelah perang Khaibar.

 

Apakah daging dhabbun halal dimakan?

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, dia berkata, “Aku dan Khalid bin al-Walid masuk rumah Maimunah bersama Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam lalu dihidangkan daging dhabbun yang dipanggang. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mengulurkan tangan ke daging dhabbun  itu. Maka tiba-tiba sebagian wanita yang berada di rumah Maimunah berkata,’Beritahu Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tentang hidangan yang hendak beliau makan.’ Aku bertanya,’ Apakah engkau hendak memakannya, ini daging dhabbun?’ Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menarik kembali tangannya dan urung memakannya. Aku bertanya, ‘ Wahai Rasulullah, apakah daging dhabbun itu haram? ‘Beliau menjawab, ‘Tidak, tapi karena ia belum pernah ada di negeri kaumku, sehingga aku merasa jijik memakannya.’ Khalid berkata, ‘Maka aku mengambil daging dhabbun itu lalu memakannya, sementara Nabi shalallahu’alaihi wa sallam memandangiku.’

 

Penjelasan lafadz:

Yang dimaksud dengan dhabbun adalah sebangsa kadal, binatang ini cukup dikenal dan tempatnya dipadang pasir.

 

Kesimpulan hadist:

  1. Dalam hadist ini terkandung dalil bahwa perasaan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang secara pribadi tidak berselera terhadap sesuatu, tidak membuat sesuatu itu haram, karena hal ini tidak termasuk sesuatu yang berkaitan dengan syariat tetapi kembali dengan perasaan dan kebiasaan.
  2. Kebaikan akhlak Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah mencela makanan. Ini merupakan kebiasaan beliau yang mulia. Jika beliau berselera terhadap suatu makanan, maka beliau memakannya dan jika tidak maka beliau membiarkannya tanpa mencelanya.
  3. Di sini juga terkandung dalil bahwa perasaan suka atau tidak terhadap makanan itu terkandung kebiasaannya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya memaksa untuk memakan sesuatu yang tidak membuatnya berselera dan berkenan, karena makanan yang tidak diinginkan tidak akan menjadi lezat shingga jika dipaksa bias jadi mengganggu kesehatan.

 

Bolehkah memakan belalang?

 

Dari Abdullah bin Aufa, dia berkata, “Kami pernah berperang bersama Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sebanyak tujuh kali peperangan sementara kami hanya memakan belalang.”

Kesimpulan hadist :

  1. Di dalam hadist ini terkandung penghalalan memakan belalang. An-nawawi berkata,’ ini merupakan ijma’ ulama.’
  2. Belalang itu halal dengan cara bagaimanapun ia mati, karena Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, “ dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah belalang dan ikan, sedangkan dua darah ialah hati dan limpa.”

 

Halalnya daging ayam

Dari Zahdan bin Mudharrib al-jarmi, dia berkata, “Kami pernah berada di tempat Abu Musa al-Anshari, dia lalu mengajak ke sebuah hidangan yang ada daging ayam. Lalu ada seorang laki-laki dari bani Taimillah yang kulitnya kemerah-merahan mirip dengan para mawali. Dia berkata kepada orang itu, ‘Kemarilah!’, maka orang itu tampak ragu-ragu. Abu Musa berkata lagi kepadanya, ‘Kemarilah, karena aku pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memakan sebagian dari daging ayam.”

Kesimpulan hadist :

  1. Disini terkandung dalil tentang penghalalan tentang memakan daging ayam, karena ayam termasuk makanan yang baik.
  2. Keberadaan rata-rata makanan ayam berupa hal najis tidak membuatnya haram, tetapi ia memiliki hukum seperti hukum al-jalalah atau unta yang memakan kotoran.
  3. Diperbolehkannya makanan, minuman, dan pakaian yang mewah dan hal ini tidak bertentangan dengan syariat. Siapa yang meninggalkannya bukan karena dilarang agama maka hal itu tidak benar. Firman Allah. “ Katakanlah, ‘siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah  yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan siapa pula kah yang mengharamkan rezeki yang baik.’’ (QS. Al-a’raf :32) tapi kemewahan tidak selayaknya dijadikan kebiasaan secara terus-menerus, agar hal itu tidak menjadi tabiat yang melekat, sehingga membuat pelakunya tidak sabar jika meninggalkan kemewahan.

Apakah halal daging hasil buruan anjing yang tidak terlatih?

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiyallahu’anha dia berkata, “ Aku menemui Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam  lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah , sesungguhnya kami berada di daerah kaum ahli kitab. Maka bolehkah kami makan dengan menggunakan bejana mereka? (jika aku) berada di daerah perburuan, dan aku berburu dengan busurku dan anjingku yang tidak terlatih untuk berburu serta anjingku yang sudah terlatih. Maka apa yang sebaiknya aku lakukan?’ Beliau menjawab, ‘Tentang apa yang kau sebutkan, yakni bejana ahli kitab, jika kalian mendapatkan bejana lainnya, maka janganlah memakan menggunakan bejana mereka jika kalian tidak mendapatkannya maka cucilah bejana itu dan makanlah dengannya. Adapun binatang yang engkau buru dengan busurmu, sedang engkau menyebut nama Allah ketika memburunya, maka makanlah. Binatang yang engkau buru dengan aningmu yang sudah terlatih, sedang engkau menyebut nama Allah ketika memburunya maka makanlah. Sedang binatang yang engkau buru dengan anjing yang tidak terlatih lalu engkau sempat menyembelihnya, maka makanlah.’’

 

Makna global :

Abu Tsa’labah bercerita kepada Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bahwa dia dan teman-temannya berada di daerah wilayah perburuan, dia berburu menggunakan busur dan anjing yang sudah terlatih dan juga anjingnya yang belum terlatih untuk berburu. Maka apa yang sebaiknya dilakukan dan bolehkah berburu menggunakan alat-alat ini?

Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam berkata kepada Abu Tsa’labah bahwa binatangnya yang dia buru dengan menggunakan busurnya adalah halal dengan syarat dia menyebut nama Allah ketika melontarkan anak panah ke binatang buruan. Adapun binatang yang diburu dengan anjing, jika anjing itu sudah terlatih dan dia menyebut nama Allah ketika melepasnya maka binatang buruannya itu halal pula. Tetapi jika anjingnya belum terlatih maka binatang buruannya tidak halal kecuali binatang buruan di dapati tidak halal kecuali binatang buruan tersebut didapati oleh si pemburu dalam keadaan masih hidup dan disembelih sesuai aturan syariat.

 

Kesimpulan hadist :

  1. Diperbolehkan berburu menggunakan busur atau panah dan dengan menggunakan anjing yang terlatih dengan syarat disertai penyebutan nama Allah ketika melepas anak panah dan anjing. Jika penyebutan nama Allah ini ditinggalkan secara sengaja atau lalai, maka hasil buruan tidak boleh dimakan. Jika ditinggalkan karena lupa dan tidak mengerti hukumnya maka boleh dimakan. Inilah pendapat yang benar bahwa jika hal itu ditinggalkan karena lupa atau tidak mengerti hukumnya maka hasil buruannya boleh untuk dikonsumsi. Pendapat ini riwayat imam Ahmad.
  2. Menurut zhahir hadist ini adalah halal memakan binatang buruan, baik yang dibunuh dengan melukainya atau membenturkannya. Ini merupakan pendapat mahzhab asy-syafi’i dan satu riwayat dari imam Ahmad yang juga merupakan pendapat yang dipilih oleh sebagian pengikutnya yaitu Ibnu Hamid dan Abu Muhammad al-jauzi dan merupakan zhahir perkataan al-Khiraky yang didasarkan kepada keumuman ayat. Adapun pendapat yang masyhur dari berbagai mahdzab binatang buruan tidak halal jika mati dicekik atau dibenturkan.
  3. Binatang yang diburu oleh anjing yang belum terlatih tidak dihalalkan kecuali jika si pemburu mendapatkannya dalam keadaan hidup dan menyembelihnya sebelum mati.
  4. Kriteria melatih binatang pemburu menurut mahdzab Hambali, jika binatang pemburu itu anjing, macan atau binatang lain yang juga mempunyai taring harus dilatih untuk mempunyai keahlian tiga hal yaitu dapat diminta berburu apabila diarahkan, dapat dicegah apabila diperintah untuk itu, tidak memakan binatang buruan jika ia dapat menangkapnya. Jika binatang pemburunya memiliki cakar seperti burung elang maka dilatih untuk memiliki dua keahlian yaitu dapat diminta berburu apabila diarahkan, dapat dicegah apabila diperintah untuk itu. Sebagian ulama menjadikan cara dan batasan melatih binatang pemburu dikembalikan kepada kebiasaan yang berlaku. Binatang pemburu yang dianggap manusia terlatih dan tahu tata cara berburu, maka binatang pemburu tersebut telah berpredikat terlatih dan binatang buruan hasil tangkapannya halal dan sah dianggap sebagai harta. Ini merupakan pendapat yang baik, karena pembuat syariat tidak membatasi cara melatih binatang pemburu. Yang memberikan batasan untuk itu ialah tradisi yang berlaku.
  5. Keutamaan ilmu daripada kebodohan, dimana hasil buruan anjing yang sudah terlatih boleh dimakan sedangkan hasil buruan anjing yang tidak terlatih tidak boleh dimakan, menunjukan bahwa ilmu itu mempunyai pengaruh bahkan terhadap binatang sekalipun seperti yang telah dikatakan ibnul qoyyim rahimahullah.

 

Dari Hammam bin Al-Harits, dari Adi bin Hatim, dia berkata, “ Aku berkata , ‘Wahai Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sesungguhnya aku melepas anjing-anjing yang sudah terlatih lalu mereka menangkap buruan bagi ku dan aku menyebut nama  Allah. ‘Beliau bersabda, ‘Jika ketika engkau melepas anjingmu yang sudah terlatih seraya menyebut Nama Allah, makanlah buruan yang ditangkapkan bagimu.’ Aku bertanya, ‘Bagaimana jika anjing-anjing itu membunuh buruannya?’ Beliau Menjawab, ‘Tidak apa-apa meskipun anjing-anjing itu membunuhnya, selagi tidak disertai anjing lain.’ Aku berkata, ‘ Sesungguhnya  aku melempar buruan di mi’radh ( sejenis tombak ) hingga mengena.’ Beliau bersabda , ‘ Jika engkau melempar dengan mi’radh dan mengena makanlah ia, tetapi jika yang mengenainya adalah gagang mi’radh itu maka janganlah engkau memakannya.

 

Sedangkan dari hadist asy-sya’by dari Adiy kandungannya seperti hadist yang sebelumnya, akan tetapi didalamnya disebutkan, ‘ kecuali jika anjing itu memakannya. Jika ia memakannya, maka janganlah engkau memakannya pula, karena engkau menyebutkan nama Allah atas anjingmu dan engkau tidak menyebutkan nama Allah atas anjing yang lain.

Didalamnya juga disebutkan, “ jika engkau melepas anjing yang sudah terlatih, maka sebutlah nama Allah. Jika anjing itu menangkap buruan lalu engkau mendapatkannya dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapatkannya sudah mati, dan anjing itu tidak memakan sebagian badan binatang buruan itu, maka makanlah, karena apa yang dibunuh anjing itu sama dengan penyembelihannya.”

 

Didalammnya juga disebutkan , “ Jika engkau melepas anak panah mu, maka sebutlah nama Allah.”

Didalamnya juga disebutkan, “ Jika binatang buruan lepas bagimu sehari atau dua hari”, dalam suatu riwayat disebutkan, “ Dua hari dan tiga hari sementara engkau tidak mendapatkannya ditubuhnya kecuali bekas anak panahmu, maka makanlah jika engkau menghendaki. Jika engkau mendapatkannya tenggelam di dalam air, maka janganlah engkau memakannya, karena engkau tidak tahu apakah buruan itu mati karena tenggelam atau karena anak panahmu.”

 

 

Kesimpulan kedua hadist diatas :

  1. Dalam hadist tersebut terkandung dalil tentang halalnya binatang yang diburu anjing dan sejenisnya seperti macan, burung elang dan sebagainya seperti al-bazi ( nama untuk jenis elang tertentu ) jika sudah terlatih dan dengan menyebut nama Allah ketika melepasnya baik si pemburu mendapatkan buruannya masih hidup atau sudah mati.
  2. Pengharaman binatang buruan yang didapatkan anjing yang sudah terlatih bersama-sama  anjing yang belum terlatih, karena didalamnya ada pencampuran antara yang diperbolehkan yaitu hasil buruan anjing yang sudah terlatih dengan yang tidak diperbolehkan yaitu hasil buruan yang belum terlatih, sehingga harus ditinggalkan karena hal ini termasuk hal yang syubhat.
  3. Harus menyebutkan nama Allah ( membaca bismillah ) ketika melepaskan as-sahm. Yang dimaksudkan as-sahm disini ialah senjata yang dibuat untuk melontarkan seperti senapan dengan segala jenis dan namanya. Tidak membaca bismillah menjadi tidak mengapa jika lupa atau tidak tahu hukumnya, seperti yang sudah di singgung di bagian sebelumnya.
  4. Karena penyebutan nama Allah merupakan syarat, maka tidak halal bagi binatang buruan yang kematiannya dilakukan bersama-sama oleh anjing yang terlatih dan yang tidak terlatih karena anjing yang tidak terlatih tidak disebutkan nama Allah ketika dilepas.
  5. Karena niat dan latihan merupakan dua tujuan pada binatang pemburu, maka binatang buruan tidak halal jika dimakan oleh binatang pemburu, karena boleh jadi binatang pemburu itu menangkap buruan bagi dirinya sendiri dan bukan bagi pemiliknya atau orangnya.
  6. Bahwasannya binatang buruan yang berhasil didapatkan dengan menggunakan senjata atau binatang pemburu  dalam keadaan hidup, maka ia harus disembelih. Jika binatang buruan dalam keadaan mati baik karena lemparan senjata atau terbunuh oleh binatang pemburu , maka hal itu dianggap sama dengan penyembelihannya.
  7. Jika binatang buruan dalam keadaan terluka lalu ia tercebur ke dalam air, lalu kemudian engkau menjadi ragu apakah ia mati karena busurmu atau karena tenggelam di air, maka hukumnya binatang buruan itu haram karena di khawatirkan ia mati tenggelam. Hal ini berlaku jika ada keragu-raguan yang kuat. Namun jika ada dugaan kuat bahwa ia mati karena busur karena airnya sedikit misalnya, sedangkan luka yang dialaminya memberi isyarat bahwa ia mati karenanya maka hukumnya halal. Hukum ini berlaku umum untuk segala sesuatu yang ada kemungkinan haram dan halalnya.
  8. Bahwa al-mi’radh dan senjata-senjata lainnya, jika membuat binatang buruan terbunuh karena ketajamannya dan keakuratan lemparannya maka hukumnya mubah, karena alat-alat itu dapat menumpahkan atau mengalirkan darah. Jika ia mati karena dibenturkan atau dipukul dengan benda berat dan tumpul, maka ia tidak diperbolehkan dan termasuk bangkai.

 

Apa hukum memelihara anjing?

Jawab:

Dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda , ‘Barang siapa memelihara seekor anjing, selain anjing berburu atau untuk menjaga ternak, maka pahalanya setiap hari berkurang dua qirath.”

Salim berkata “ Abu Hurairah pernah berkata, ‘Atau anjing untuk menjaga ladang.’ Dan ia adalah orang yang memiliki kebun.”

 

Makna global :

Syariat melarang untuk memelihara anjing karena ia mendatangkan mudharat dan kerusakan, seperti menjauhnya para malaikat dari tempat yang didalamnya ada anjing, disamping itu keberadaan anjing membuat najis.

Barang siapa yang memelihara anjing, pahalanya akan dikurangi setiap hari dengan ukuran yang sangat besar, (dua qirath dan hanya Allah yang Maha Mengetahui kadar hal itu).

Namun jika ada tuntutan keperluan untuk memeliharanya yang dapat mendatangkan manfaat dan kebaikan, seperti untuk menjaga kambing yang dikhawatirkan akan dimangsa serigala atau dicuri, maka demi manfaat-manfaat tersebut diperbolehkan untuk memeliharanya dan tidak ada celaan terhadap pelakunya.

 

Kesimpulan hadist :

  1. Haram memlihara anjing dan pahala pemiliknya akan berkurang dua qirath setiap harinya. Ini merupakan kadar yang sangat besar, hanya Allah lah yang mengetahui seberapa kadar yang tepat.
  2. Larangan memelihara anjing, karena dapat mendatangkan kerusakan dan mudharat yang banyak, seperti menjauhnya para malaikat dari tempat yang didalamnya ada anjing, di samping keberadaan anjing bisa membuat orang takut. Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bahwa para malaikat tidak memasuki suatu rumah yang didalamnya ada anjing. Anjing membawa najis mughalazhah yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan mengulang-ngulang pencuciannya dan menggunakan tanah.
  3. Diperbolehkan memelihara anjing untuk kemaslahatan seperti untuk menjaga kambing atau ladang dan juga untuk berburu. Manfaat-manfaat itu menjadi alasan pembolehan memeliharanya.

Biarlah Air Mata Mengalir Untuk Saat Ini…

sebelum saat mu tiba..
sebelum orang terpilih itu datang…
dan menggandengmu dalam istananya…
jangan engkau biarkan dirimu layu sebelum massanya…
jangan engkau biarkan serigala liar menjadikanmu bahan permainan dalam keisengannya…
jangan biarkan kumbang berebut menghisap madumu..
jangan biarkan mereka mengintipmu diam-diam dan menikmati pesonamu dalam kesendiriannya
jangan biarkan dia mempermainkan hatimu yang rapuh atas nama ta’aruf, atas nama cinta…ya atas nama cinta…

jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertaman lembut dihatimu yang rapuh,..
segeralah buat benteng yang tebal dan kokoh..
tanam rumput beracun disekelilingnya, pasang semak berduri di muara-muara nya…

berlarilah menjauhinya….menjauhi orang yang kamu cintai
buat jarak yang demikian lebar padanya…
jangan engkau berikan dia kesempatan untuk menjajaki hatimu,

biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu..
biarlah luka ini mengering dengan seiring berjalannya kehidupan..

sukakah engkau apabila saat ini ternyata suamimu (kelak) tengah mengobrol akrab , tertawa riang, bercanda sambil menggoda, saling mencubit, saling memandang dengan sangat,
saling menyentuh ? dan bahkan lebih dari itu??

suka-kah engkau bila ternyata suamimu (kelak) sedang berjalan bersama gadis lain yang itu bukan engkau?

suka-kah engkau sekiranya suami mu (kelak) saat ini tidak bisa tidur karena memikirkan gadis tersebut dan berkata ” aku sangat mencintaimu” ? tidak patah hati-kah engkau?

suka-kah engkau bila suamimu (kelak) berkata pada gadis lain ” tidak ada yang lebih aku cintai selain engkau ” ?
menyebut nama gadis tersebut dalam doanya, memohon pada Allah supaya gadis tersebut menjadi isterinya….

dan ternyata engkaulah yang kelak akan menjadi isterinya , dan bukan gadis tersebut…

jika engkau tidak suka akan hal itu..
jika engkau merasa cemburu…
maka demikian halnya suami mu (kelak)

wanita terjaga, maka Allah -lah yang akan mengirimkan pendamping untuknya…

karena wanita terjaga adalah wanita yang banyak di damba oleh ikhwan sejati…

jadi…
jagalah dirimu…
jagalah kehormatanmu…
sebelum saatnya tiba….

ya Allah…
karuniakan aku suami yang sholeh…
yang menjaga dirinya..
yang menjaga hatinya..
untuk yang halal baginya….

yang senantiasa memperbaiki dirinya…
yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam…

yang baik agama dan akhlaknya…
yang hikmah dalam menyeru kebenaran…
yang menerima ku apa adanya…
yang membimbing ku dengan lemah lembit…
yang akan membawaku menuju syurgaMu….

kutitipkan hatiku pada Dzat yang tidak pernah menghianati titipan, agar Dia memberikan hati ini kepada satu-satunya orang yang paling Dia Ridhai

menjadi pelengkap…
tulang rusuk…

(balasan untuk yg telah menulis notes di tanggal 23 des 2012 Allahu Yubaarik Fiik)

dikutip dari puisi nasihat kismis takmiroh ibnu sina1011187_4747122925614_470589660_n

Beginilah Seharusnya Menjaga

Dahulu saya belum paham bagaimana seharusnya interaksi terhadap ikhwan dan akhwat. Rapat hanya berbataskan hijab kecil dan setelah rapat, seperti biasa tetap bisa melihat ikhwan tanpa ada suatu penghalang, semua kembali seperti biasa saja, ada juga hanya berbatas tiang besar, akhwat dikanan ikhwan di sebelah kiri. Acara-acara kajian juga hanya berbatas jarak saja, ikhwan di depan, akhwat di belakang, tanpa adanya hijab. Dulu yang demikian itu saya Lanjutkan membaca Beginilah Seharusnya Menjaga

Ilmu dunia kita perjuangkan bagaimana dengan ilmu akhirat kita?

Bismillah…

Ceritaku , dikelompok tutorial 2.

Peristiwa pro dan kontra mungkin sudah biasa kita temui di sekitar kita, ada sekelumit peristiwa yang terkadang memberikan kita sedikit pelajaran, contoh kasus adalah sistem pebelajaran konvensional dan sistem pembelajaran student center, atau sering disebut dengan sistem blok, saya tidak mengajak untuk berdebat masalah pro dan kontra dari sistem blok, tetapi yang saya ingin sampaikan adalah, hikmah dari permasalahan tersebut. Lanjutkan membaca Ilmu dunia kita perjuangkan bagaimana dengan ilmu akhirat kita?

Khilafah, Imamah dan Pemberontakan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

‘Arfajah Al-Asyja‘i z berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
“Siapa yang mendatangi kalian dalam keadaan kalian telah berkumpul/bersatu dalam satu kepemimpinan, kemudian dia ingin memecahkan persatuan kalian atau ingin memecah belah jamaah kalian, maka perangilah/bunuhlah orang tersebut.”

Lanjutkan membaca Khilafah, Imamah dan Pemberontakan

Haramnya Musik dan Lagu

Gambar(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

Kontroversi tentang musik seakan tak pernah berakhir. Baik yang pro maupun kontra masing-masing menggunakan dalil. Namun bagaimana para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf memandang serta mendudukkan perkara ini? Sudah saatnya kita mengakhiri kontroversi ini dengan merujuk kepada mereka. Lanjutkan membaca Haramnya Musik dan Lagu

Arti Jilbab untukmu..

bismillah…

ketika syahadat kau persaksikan…
ketika engkau mengakui, meyakini bahwa Allah ialah satu-satu nya Rabb yang haq untuk disembah….
ketika engkau mengakui bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah utusan Allah,,
utusan yang membawa islam dengan syariat yang sempurna…
tak lebih…tak juga kurang suatu apapun….

lantas….
apakah arti jilbab untukmu…wahai saudariku???
apakah ia hanya selembar kain yang menutupi kepalamu??
apakah ia hanya selembar kain yang menutupi rambutmu??
apakah ia hanya selembar kain yang menutupi leher mu??
apakah ia hanya selembar kain untuk menutupi aib dirambutmu??
apakah ia hanya selembar kain untuk mempercantik penampilanmu??
Apakah ia hanya selembar kain yang menandakan bahwa kau menikuti trend??
apakah ia hanya selembar kain yang dengannya engkau ingin terlihat alim??
apakah ia hanya selembar kain yang dengannya engkau ingin bersombong diri ?
apakah ia hanya selembar kain yang dengannya engkau seenaknya mengenakan lalu melepaskannya?

apakah itu arti dari jilbab mu wahai saudariku???
engkau mengakui Allah…
engkau mengakui Rasulullah…
engkau mengakui ISLAM !

apakah ada balasan yang lebih indah dibanding JANNAH Nya?
apakah ada siksaan yang lebih berat di banding NERAKA-Nya?

wahai saudariku…
jilbab bukan sebagai sarana TREND
jilbab bukan sebagai sarana untuk mempercantik diri
jilbab bukan sebagai sarana untuk bersombong diri

jilbab untuk menutupi auratmu…
menutupi ujung rambutmu sampai ujung jari kaki mu…
seluruh TUBUHMU…

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

apakah dalil diatas KURANG JELAS ?

jilbab itu perintah bagi muslimah wahai saudariku…
tidak ada udzur untuk meninggalkan perintah berhijab…
berjilbab dengan benar itu berarti engkau menaati perintahNya..
bukan berjilbab cantik hingga para lelaki semakin terpikat dengan kecantikanmu…
bukan berjilbab modis yang bisa engkau ubah gaya dan cara memakainya…

dipakai dari atas kepala…dan menjulur ke bawah menutupi tubuhmu…menutupi perhiasanmu…